Al-Qur’an semakin banyak menyingkap tabir kehidupan manusia, termasuk peringatannya agar muslim memelihara diri dan keluarga dari api neraka (At.Tahrim, 6). Ayat ini menunjukkan makna strategis keluarga dalam pembinaan anggotanya. Makna strategis kian terasa ketika keluarga muslim menghadapi proses globalisasi dengan segala efeknya. Kemajuan terknologi informasi telah memberikan  corak lain dalam  proses alih nilai-nilai moral dari  luar ke dalam lingkungan keluarga, dan celakanya banyak nilai-nilai moral itu tidak sejalan dengan ajaran Islam. Terpaan nilai-nilai moral  non-Islami yang terus menerus dari sebagian media informasi (MI) telah menjadikan anggota keluarga muslim berada suatu kondisi hipermoralitas. Sebuah kondisi ketika nilai-nilai baik dan jelek bercampur dalam kehidupan sehari-hari, kriteria moral menjadi jumboh, orang tidak bisa menentukan mana baik-buruknya suatu hal atau perilaku. Akibat lanjutannya adalah anggota keluarga berada dalam situasi ketidakpastian  moral  (indeterminancy of moral).

Lebih krusial lagi adalah perubahan pada fungsi keluarga, setelah fungsi sosial keluarga dikurangi seiring dengan proses  pengkhususan peran pada masyarakat moderen. Keluarga modern mulai kehilangan fungsi-fungsi intrinsiknya/tradisional  dan banyak digeser oleh MI  yang telah berfungsi sebagai wakil orang tua dalam proses sosialisasi nilai terhadap anak. Kian banyaknya wanita/istri yang bekerja di sektor publik semakin memperlebar fungsi ‘perwakilan’ MI tersebut. Hal ini berpengaruh pada banyak aspek misalnya: frequensi hubungan orang tua-anak semakin sedikit karena anak disibukkan dengan pekerjaan  ‘mempelototi’ MI.  Dalam waktu  yang sama orang tua bukan lagi sebagai satu-satunya pihak dan kecil sekali sebagai pihak dalam proses sosialisasi nilai, baik dalam  pengasuhan dan pengarahan anak serta ketauladanan.

Akibat lain dari kuatnya MI sebagai wakil orang tua ialah terjadinya proses sekularisasi kehidupan keluarga. Sebuah proses dimana terjadi pemisahan antara aspek keagamaan dengan aspek hiburan, antara ‘tuntunan’ dengan ‘tontonan’, keduanya berjalan secara paralel tanpa ada hubungan satu dengan yang lain. Agama tidak lagi menjadi penuntun  ketika anggota keluarga menonton hiburan  atau  acara MI, khususnya telivisi. Mungkin sekali anak dan orang tua menerima informasi keagamaan melalui pengajian di luar rumah, nasehat-nasehat orang tua, nilai-nilai amar makruf nahi mungkar, melaksanakan sholat, puasa, dan mengaji Al-Qur’an pada waktu tertentu, tapi dari sisi lain mereka tetap menonton film kartun, sinetron, seni budaya yang intinya berisi amar mungkar nahi makruf seperti tayangan bernuansa kekerasan, pornografi-aksi, konsumerisme, dan tahayul-khurofat

MI juga berperan atas terjadinya proses abangisasi, dalam arti pelemahan ketaatan beragama,  dalam keluarga muslim. Program TV, dan MI lainnya telah merubah pola kegiatan keagamaan anak baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Membaca Al-qur’an, zikir, sholat, kian dipercepat, bahkan bisa jadi tidak sempat dilakukan karena ada acara favorit. Bahkan dalam bulan ramadhan-pun banyak tayangan yang hanya mengdepankan sisi hiburannya, di selasela acara yang dianggap bernuansa keagamaan.

Setidaknya ada dua hal yang perlu dilakukan saat ini dan ke depan. Pertama, memberdayakan keluarga sebagai struktur mediasi  dalam proses alih nilai dari luar. Meningkatkan kemampuan keluarga untuk menyaring dan menyeleksi semua informasi yang menerpanya. Memberi pemahaman pada orang tua agar anak-anak terbiasa memilih acara TV, menonton VCD yang baik yang mampu meningkatkan keimanan, ibadah dan akhlak mulia, memberi penjelasan ketika ada kesempatan, dan mendampingi anak dalam menonton acara MI, sehingga anak terbebas dari situasi ketidakpastian  moral. Di sisi lain, keluarga tidak harus konfrontatif total dengan menolak dan mengharamkannya, sebaliknya bukan sekedar menerima tanpa kritik yang menyebabkan keluarga  menjadi makanan empuk MI. Keluarga punya kewajiban untuk  menolak atau menerima secara kritis dan  selektif terhadap acara-acara  TV misalnya. Jika ini dapat dilakukan, keluarga akan punya daya tawar yang tinggi terhadap terpaan media, misalnya  dapat menentukan tinggi-rendahnya rating sebuah acara di telivisi. Tayangan telivisi yang bersifat ‘amar mungkar nahi makruf’ akan memperoleh rating rendah jika orang tua memboikotnya.

Kedua, meningkatkan ketaatan beragama, dan desekularisasi dalam kehidupan keluarga. Yaitu mengintegrasikan antara pengetahuan dan  kegiatan keagamaan dengan tontonan yang diperoleh dari MI.  Peran ini  penting karena keluarga merupakan institusi agama  terkecil yang  harus menjadi, meminjam istilah Peter  L. Berger, ‘kanopi suci’, Ia  bertugas memberi makna  dengan menghadirkan kembali agama sebagai acuan  hidup anggota keluarga. Jika  ini dapat dilakukan maka kita sudah melaksanakan perintah Allah sebagaimana termaktub dalam surat Ah Tahrim tersebut. Se m o g a !

Artikel populer-Hipermoralitas